18 Agustus 2013

TANGAN TUHAN-MU


Tersebutlah disebuah desa dikaki sebuah gunung di negeri Kerta Raharja, tinggal seorang bapak yang sudah berumur (sebut saja namanya Pak Karma). Pak Karma ini hidup berkecukupan. Kesehariannya dilalui dengan senantiasa berbuat baik dan taat beribadah sehingga mempunyai militansi yang kuat akan keyakinannya   kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pada suatu ketika desa tersebut diguyur hujan lebat yang tiada henti-hentinya sehingga terjadilah banjir yang dahsyat hingga membelah desa A menjadi dua bagian dan hamper-hampir menenggelamkan sebagian dari wilayah desa tersebut. Melihat kondisi seperti itu pemerintah berusaha mengevakuasi warganya ketempat yang aman. Satu persatu warga masyarakat yang tempat tinggalnya hamper tenggelam dipindahkan. Dan yang terakhir tinggallah Pak Karma seorang diri.


Ketika Pak Karma ini diajak pindah dari rumahnya yang sudah tidak aman lagi ia menolaknya. Pak Karma tidak mau menerima uluran tangan Tim SAR yang berusaha menyelamatkannya.
“Ayo Bapak ikut kami, air sudah semakin besar. Kita segera harus mengungsi”, Bujuk Tim SAR.
Tidak Saya disini saja.  “Tuhan pasti menyelamatkan saya”, kata Pak Karma. Begitulah penolakan Pak Karma sehingga akhirnya ditinggalkan oleh Tim SAR yang barusan menghampiri dan membujuknya. Pak Karma tetap tinggal dirumahnya sambil terus berdoa mohon kepada Tuhan agar menyelamatkannya.
Selang beberapa jam kemudian, Tim SAR yang menggunakan Helikopter mencoba menyisir lokasi banjir  yang hampir tenggelam tersebut siapa tahu ada warga yang tertinggal disana, dan………. benar juga dilihatlah Pak Karma yang masih tinggal di rumahnya. Seorang Anggota Tim berusaha turun dari pesawat Heli mendekati tempat Pak Karma berada.  Pak Karma kembali melakukan penolakanan sehingga Tim SAR yang menggunakan pesawat Heli inipun akhirnya pergi tanpa membawa Pak Karma yang masih setia dan yakin bahwa Tuhan akan menyelamatkan dirinya dari terjangan banjir bandang yang dahsyat tersebut.
Hujanpun kian deras sehingga banjirpun menerjang kian dahsyat. Ketinggian air kian naik sehingga sudah hampir menutupi atap rumah pak Karma. Saat seperti itu sebuah perahu karet   Tim SAR yang sudah hendak balik ke pangkalan tiba-tiba lewat didepan rumah Pak Karma dan dilihatnya Pak Karma masih duduk dengan tenang sambil  berdo’a memohon Tuhan datang menyelamatkan dirinya. Petugas penyelamat inipun berusaha merayunya agar bersedia naik perahu untuk meninggalkan rumahnya yang sudah hampir tenggelam tersebut. Untuk kesekian kalinya Pak Karma tetap menolaknya meskipun sudah sedikit dipaksa oleh anggota Tim SAR.
Karena kondisi sudah kian kritis dan juga mengancam keselamatan  Tim SAR akhirnya Pak Karma ditinggalkan seorang diri. Beberapa menit kemudian gempuran air bandang kembali menerjang dan tak ayal lagi akhirnya menyeret Pak Karma hingga terbawa arus dan meninggal.
Diceritakanlah kemudian arwah Pak Karma menuju alam maya.
Pak Karma dengan garangnya membentak prajurit penjaga alam maya, mendobrak dan menerobos masuk ke istana  menghadap Dewata. “Mana Dewata yang selama ini aku puja-puja ? Kalian Semua Tuli, Kalian Semua Pembohong. Ajaran-Ajaran kalian semua bohong. Kenapa Kalian tidak menolongku disaat aku membutuhkan pertolongan!!!!!”, Bentak Pak Karma dengan emosinya. “Percuma  selama hidupku aku abdikan untuk mentaati ajaran-ajaran-Mu dan menjauhi  larangan-larangan-MU. Ternyata Kau  biarkan Aku begitu saja terseret arus banjir bandang hingga mengakhiri hidup-ku di Bumi.  Mana Tuhan itu……..Tuhan ……..kamu ternyata tidak adil”.Teriak Arwah Pak Karma.
Gerah juga akhirnya seisi Istana Dewata, dan diutuslah Dewata Pencatat kehidupan umat manusia di Bumi untuk menangani Arwah Pak Karma.
Hai Karma ………….kenapa kamu marah-marah di Istana Dewata. Kamu  memang hambaku yang paling dharmais dan taat menjalankan segala yang telah aku ajarkan dan menjauhkan diri dari segala yang aku larangkan. Do’a-do’a kamu juga telah memekakkan telingaku disaat memohon agar  aku datang untuk menyelamatkanmu. Suaramu menggema membangunkan seisi alam Dewata ini. Dan akupun sudah melakukan penyelamatan terhadapmu. Sayangnya kamu tidak menyadarinya. Mata hatimu masih buta, Karma.
Kemarilah kamu Karma. Lihatlah rekaman video-Ku detik-detik terakhir kehidupanmu Karma.
Akhirnya amarah Karma mereda dan Karma melihat dengan seksama tayangan video layar lebar dewata terkait detik-detik akhir kehidupannya.
Lihat Karma, tahukah kamu siapa yang mengutus Tim SAR yang menghampirimu itu. Dan itu lagi Tim SAR dengan Helikopternya juga mendekatimu………..Juga Tim SAR dengan Perahu Karet……… Tahukah   kamu sesungguhnya tugas mereka sebenarnya sudah selesai karena sesuai dengan catatan Kepala Desa dan Tim SAR semua warga yang hidup sudah terselamatkan. Tetapi karena do’a-do’a kamu Karma, Aku gerakkan hati orang-orang Tim SAR itu untuk kembali mengecek ulang lokasi bencana yang sudah parah itu. Tahukah kamu Karma itu kulakukan hanya untuk menyelamatkanmu. Menyelamatkan kamu Karma !!!!. Tapi sayang………… kamu  selalu menolaknya. Kamu usir mereka dengan sombongnya bahwa Aku Tuhanmu akan menyelamatkanmu dengan cara-caramu Karma.
Karma, Aku bangga dengan keteguhan hatimu untuk meyakini bahwa aku datang menyelamatkanmu. Tapi kamu telah menutup hatimu sehingga tidak bisa merasakan dan mengetahui aku telah  datang untuk menyelamatkanmu.
Aku mendengarkan do’a-do’a hambaku terlebih orang yang sudah dengan setia dan taat untuk menjalankan ajaran-ajaran-Ku serta menjauhi larangan-larangan-Ku.
Dan Karma,  sesungguhnya Akupun telah mengabulkan do’a-do’a permohonan/permintaan  semua umat manusia tanpa kecuali. Apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka butuhkan,   semua telah aku kabulkan. Tetapi sayangnya mereka semua Buta…… Mereka semua Tuli……….,  tidak tahu dan tidak menyadarinya  bahwa Aku telah mengabulkan semua keinginan dan kebutuhan umat manusia.
Ketahuilah wahai Karma dan semua umat manusia bahwa Aku mengabulkan do’a-do’a kalian dengan cara-cara Ku bukan dengan cara-cara kalian. Oleh karena itu bukalah Mata Hati kalian sehingga kalian semua merasakan kehadiran-Tuhan-mu.
Demikianlah yang bisa aku ingatkan kepadamu wahai Karma dan ini juga berlaku bagi umatku yang lainnya.
  

Tidak ada komentar: